Header Ads

Header ADS

Apakah Inflasi Menurunkan Pengagguran ?

 Apakah Inflasi Menurunkan Pengagguran ?

By : Muh Jamil


“Jika masyarakat menginginkan pengangguran yang lebih rendah, masyarakat harus bersedia menerima inflasi yang lebih tinggi; jika masyarakat ingin mengurangi biaya hidup yang tinggi, masyarakat harus bersedia menerima pengangguran yang lebih tinggi. Di antara dua pilihan sulit ini, para penganut Keynesian menganggap pengangguran sebagai kejahatan yang lebih serius daripada inflasi “ (Samuelson 1970, 810–12). 


Latar Belakang


Dalam makro ekonomi ada empat indikator yang menjadi perhatian utama yaitu pertumbuhan ekonomi, pengangguran,  inflasi dan neraca pembayaran. Indikator ini saling terkait satu sama lain sehingga Negara harus berfokus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,  mengurangi pengangguran, menjaga stabilitas harga dan neraca pembayaran. Hal ini bisa dicapai dengan kebijakan politik dan kebijakan fiskal.  kebijakan moneter melalui instrumen Bank Indonesia dan kebijakan fiskal melalui instrumen pajak dan pengeluaran pemerintah.  

Esai ini lebih fokus membahas tentang inflasi dan pengangguran. Tetapi sebelum lebih lanjut Mari kita mendefinisikan terlebih dahulu. Inflasi dapat didefinisikan sebagai peningkatan harga secara umum secara terus-menerus.  dan Pengangguran definisikan sebagai orang yang sedang Siap bekerja dan sedang mencari pekerjaan tetapi belum mendapatkannya.   Hal substansial yang ingin kita ketahui dari esai ini adalah sejauh mana inflasi mempengaruhi pengangguran. 

Pandangan pada inflasi antara satu negara dengan negara lain berbeda,  untuk negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, Cina, India dan lainnya menganggap inflasi yang baik terjadi antara 2-4 % per tahun. Inflasi dengan nilai ini masih dikategorikan sebagai inflasi rendah.  Berbeda dengan nilai antara 7 sampai 10% dikatakan sebagai inflasi tinggi atau hyper inflation.  Sedangkan negara maju dengan tingkat produktivitas modal yang tinggi Inflasi yang terbaik adalah mendekati nol.  Hal ini disebabkan karena tingkat pertumbuhan pada negara maju cenderung kecil  Dan dampak inflasi yang sedikit sangat besar. 

Secara teoritis Seperti yang dikemukakan pada kurva Phillips bahwa peningkatan inflasi akan mengurangi pengangguran.  Teori ini masuk akal karena peningkatan harga akan mendorong produsen untuk meningkatkan output yang berimplikasi pada  peningkatan keuntungan perusahaan dan penyerapan tenaga kerja. Pengangguran berkurang berarti pendapatan meningkat dan kemiskinan menurun.  Pendapatan yang meningkat akan mendorong pada konsumsi tinggi. Siklus Seperti ini akan terus berulang setiap waktu. 

Dalam kurva Phillips Terdapat hubungan terbalik antara pengangguran dan inflasi.  semakin tinggi tingkat pengangguran maka semakin rendah tingkat upah. Di sisi lain Phillips menggambarkan hubungan antara inflasi dan tingkat pengangguran dengan asumsi inflasi adalah cerminan dan kenaikan agregat . Peningkatan permintaan agregat akan mendorong produsen meningkatkan kapasitas produksi dengan menambah tenaga kerja. Peningkatan pendapatan akan terjadi di kalangan masyarakat akibat dari banyaknya tenaga kerja yang terserap di lapangan kerja. 

Inflasi dan Pengangguran di Indonesia


Pengangguran  dan inflasi di Indonesia terus mengalami fluktuasi  dalam 10 tahun terakhir.  Pada tahun 2014 tingkat inflasi tertinggi yaitu 6,42% dengan tingkat pengangguran sebesar 5,94%. Tahun berikut inflasi stagnan dengan pengangguran mengalami peningkatan sebesar 6,18%.  secara umum dari 10 tahun data yang dianalisis,  hanya pada Tahun 2022 inflasi mengalami peningkatan yang menurunkan tingkat pengangguran.  hal ini menunjukkan bahwa teori yang dikemukakan oleh kurva Philips hanya satu tahun yang sesuai. Sementara 9 tahun lainnya tidak sesuai dengan kurva Phillips. 


Gambar 01. Inflasi dan Pengangguran di Indonesia



Mengapa bisa demikian ?.   Bukankah kurva  Philips Telah teruji ?.  para ekonomi menyepakati bahwa kurva philips sesuai dengan kondisi yang sebenarnya dengan berbagai asumsi dasar yaitu harga yang naik mendorong dunia usaha untuk meningkatkan jumlah produksinya, merekrut tenaga kerja lebih banyak dan berimplikasi secara terus-menerus dalam meningkatkan pendapatan tenaga kerja.

Kritik pada kota Philips akan terjadi berdasarkan data di atas saja,  pada tahun 1970-an pendapat ini dianggap  usang.  disebabkan karena tidak mampu mengatasi persoalan krisisl tahun 1970-an yang disebabkan oleh pengeluaran pemerintah Amerika Serikat sangat tinggi Pada perang Vietnam dan Embargo minyak yang dilakukan oleh Arab Saudi.  Depresi terjadi, ekonomi runtuh, asumsi keynes  disalahkan. 

Untuk kasus di Indonesia perlu anaisis dari tahun ke tahun,  Pada tahun 2014 terjadi Inflasi yang sangat tinggi, bahkan mencapai 8,36% pada bulan Desember.  Hal ini disebabkan oleh kenaikan bahan bakar, tarif dasar listrik dan lainnya yang berimplikasi pada biaya transportasi yang meningkat. Di saat yang sama barusan terjadi pergantian kepemimpinan dari Presiden SBY ke Presiden Joko Widodo. 

Pada tahun selanjutnya yaitu tahun 2015,  inflasi tidak mengalami penurunan. Masih tetap berada pada posisi 6,42%. Dalam dokumen isu-isu inflasi 2015 inflasi masih disebabkan oleh kebijakan pemerintah pada bahan bakar , Tarif dasar listrik dan kebijakan LPG. Selain dari masalah dalam negeri juga dipengaruhi oleh masalah dalam luar negeri yaitu tingginya impor dari luar negeri. 

Pada tahun 2016,  kondisi inflasi telah mulai stabil dengan tingkat inflasi sebesar 3,5%.  stabilitas ini dipengaruhi oleh Kebijakan negara dalam mengatasi inflasi tahun-tahun sebelumnya dengan menerapkan tim pengendali inflasi disetiap daerah (TPI). Pada tahun-tahun berikutnya tingkat inflasi cenderung stabil.  Hal ini disebabkan oleh pengalaman yang dimiliki presiden dan tim dalam mengatasi persoalan persoalan Inflasi. . 

Peralihan tahun 2021 ke 2022 memperlihatkan terjadi peningkatan inflasi disertai dengan penurunan pengangguran.  pada tahun ini semakin hal tersebut disebabkan oleh bangkitnya ekonomi pasca covid 19 sejak tahun 2020. Perubahan ini membenarkan teori tempat Philips. Sama persis dengan teori-teori yang sering dikemukakan oleh para ekonom. Awal 2023 inflasi secara perlahan menurun, tetapi penyerapan tenaga kerja semakin meningkat seiring. 

 Berbagai kebijakan pada tahun 2022 dilakukan untuk mendorong perekonomian pada tahun tersebut antara lain Pertama, menjaga daya beli masyarakat  melalui program sosial seperti PKH Bantuan langsung tunai dan lainnya. Kedua, Memperkuat pasar domestik dengan memprioritaskan produk dalam negeri.  Ketiga, Diversifikasi pasar ekspor.  Keempat,  perluasan lapangan kerja dengan penerapan undang-undang Cipta kerja.  Kelima, Reformasi keuangan dan hilirisasi industri.  Ketujuh, Peningkatan produktifitas SDM dan pengembangan pariwisata.  

Kebijakan stabilisasi berbasis mikro 


Dalam kurva philips terjadi hubungan positif inflasi dan penyerapan tenaga kerja, Tetapi berbagai literatur juga menunjukkan bahwa inflasi adalah negatif.  Justifikasi ini didasarkan pada asumsi asumsi.  misalnya inflasi tidak berada pada angka 2 digit,  atau sebagaimana yang sebelumnya dijelaskan yaitu di bawah dari 7%. Karena diatas 7% telah dikategorikan sebagai Hyperinflasi. 

Inflasi yang diiringi dengan peningkatan output, upah dan suku bunga nominal dianggap tidak masalah. Tetapi inflasi yang tidak dibarengi dengan tiga indikator tersebut akan menyebabkan biaya inflasi yang berdampak pada; Pertama,  nilai uang yang bersifat money Power akan turun disebabkan oleh biaya inflasi. Contoh sederhana dari kasus ini adalah jika seseorang menyimpan uang satu juta dalam bentuk tunai di rumah.  Pada tahun selanjutnya nilai riil dari 1 juta Berkurang. Hal ini disebabkan oleh jumlah barang yang bisa dibeli dengan uang saja satu juta lebih kecil karena harga barang telah mengalami peningkatan. 

Kedua, Perusahaan harus mengeluarkan lebih banyak biaya untuk memproduksi sebuah produk,  dengan kata lain biaya produksi meningkat.  peningkatan biaya produksi ini semakin memperparah harga di pasar.  Ketiga,  Pajak atas laba modal: Inflasi dapat membuat orang tampak memiliki keuntungan nominal yang tinggi, meskipun nilai riil keuntungan tersebut kecil atau bahkan negatif. Inflasi dapat mendorong individu ke kelompok pajak yang lebih tinggi, meskipun daya beli sebenarnya tidak meningkat.

Inflasi yang tinggi dapat mengganggu pasar walrasian, Kesulitan dalam perencanaan keuangan disebabkan karena perusahaan sulit menghitung dampak jangka panjang dan  Orang cenderung merasa terganggu oleh perubahan besar dalam harga nominal Meskipun tidak mempengaruhi pendapatan  real mereka. 


Dalam berbagai teori seperti yang dikemukakan oleh Tobing 1972 dan William 2009 dan Robert 2017 mengatakan bahwa inflasi memperlancar Pasar tenaga kerja dan kebijakan moneter.  juga menurutnya dikatakan bahwa tidak ada kesepakatan yang jelas inflasi yang seharusnya . Berkisar antara 0 sampai 5%.  jika inflasi yang Merusak maka harus ditekan ke titik nol.  

  

Persamaan ini sering digunakan dalam rangka ekonomi makro, Jika Inflasi aktual lebih besar dari ekspektasi inflasi,   akan mendorong perusahaan untuk memproduksi lebih besar Karena keuntungan yang didapatkan lebih besar pula. sebaliknya jika inflasi aktual lebih kecil dari ekspektasi maka perusahaan akan mengurangi produksi karena keuntungan yang didapatkan akan lebih kecil. 

Persamaan ini sering digunakan dalam model ekonomi makro untuk menjelaskan bagaimana ekspektasi inflasi memengaruhi output dan inflasi aktual dalam jangka pendek. Jika ekspektasi inflasi berbeda dari inflasi aktual, maka akan ada dampak pada tingkat output aktual melalui perubahan perilaku konsumen dan produsen.

Untuk meningkatkan output aktual,  maka intervensi pada inflasi aktual juga diperlukan. Seluruh instrumen kebijakan pemerintah melalui kebijakan moneter dan fiskal mendorong untuk Menetapkan target inflasi.  Target inflasi inilah yang dijadikan sebagai ekspektasi inflasi sehingga dunia usaha menjadikan sebagai acuan dalam mengambil berbagai keputusan strategis.  Hal ini diperlukan untuk menghindari biaya inflasi yang tidak terduga atau di luar daripada ekspektasi. 

 Kebijakan moneter juga sangat berperan dalam mengatasi persoalan inflasi,  bergantung pada target inflasi yang ditetapkan melalui kebijakan makro ekonomi.  tetapi dalam perjalanannya kebijakan moneter lebih fleksibel menanggapi setiap peristiwa-peristiwa makro ekonomi yang bersifat jangka pendek. Kenaikan harga secara terus-menerus harus direspon dengan peningkatan suku bunga Secara teoritis,  dan penurunan harga atau deflasi seperti yang terjadi pada tahun 2024 ini direspon dengan penurunan tingkat suku bunga untuk mendorong produktivitas dunia usaha. 

Penutup 

 Kurva Philips tidak berlaku di Indonesia. Inflasi Naik tidak menurunkan Pengangguran justru sebaliknya, Inflasi yang turun juga menurunkan pengangguran. Secara spesifik untuk menjawab apakah inflasi mengurangi pengangguran. Jawabanya inflasi tidak menurunkan pengangguran. 

Hal ini disebabkan oleh Output aktual tidak hanya dipengaruhi oleh inflasi,  Tetapi banyak dari hal lain seperti teknologi,  kondisi perekonomian global,  dan lain-lain.  Maka dari hal tersebut diperlukan suatu kebijakan yang lebih kompleks untuk menjawab semua permasalahan yang ada. 


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.