Header Ads

Header ADS

Mengenal Metode Pergerakan Dakwah

Pendahuluan

Gerakan Lahir merupakan jawaban dari kerisauan dari sesuatau yang dianggap ideal, Lalu dibentuk cita-cita iedal, untuk memperbaiki permasalah yang ada. Dengan cara merumuskan strategi. termasuk didalamnya hidayatullah. 

Pembahasan

Hidayatullah Menggunkan sistematika Nuzulnya Wahyu sebagai Manhaj yang dilatarbelakangi oleh keinginan kuat untuk mengembalikan kejayaan islam. Diiinisiasi Oleh Ustad Abdullah Said. Manhaj ini dipilih berdasarkan periode dakwah nabi. 

1. Nahdhatul Ulama 

Pada tahun 1926, sekelompok ulama dan tokoh masyarakat dari Jawa Timur, yang dipimpin oleh Kiai Hasyim Asy'ari, mendirikan Nahdlatul Ulama. Tujuan utama pendiriannya adalah untuk mempertahankan ajaran Islam yang telah lama ada di Jawa, yaitu ajaran yang lebih inklusif, toleran, dan berakar pada tradisi-tradisi lokal, yang dikenal sebagai "Islam Nusantara." NU awalnya adalah gerakan untuk melawan pengaruh-pengaruh modernisme dan pembaruan Islam yang dianggap terlalu keras dan tidak sesuai dengan budaya lokal. NU menganut prinsip kesederhanaan, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama. Landasan gerak Nahdhatul Ulama adalah Surat Ali Imran ayat 103 sebagai berikut: َ

"Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu oleh nikmat-Nya saudara-saudara. Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat Nya kepadamu, supaya kamu mendapat petunjuk."

Penekanan Utama Yang dilakukan adalah Persatuan dan Toleransi, Mengatasi Permusuhan, Nikmat Persatuan, Pengajaran dan edukasi, Menghindari kesombongan dan Penghormatan Terhadap Nikmat Allah. 

2. Muhammadiyah

Komunitas Muhammadiyah adalah salah satu gerakan Islam di Indonesia yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912. Gerakan ini memiliki fokus pada pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial, serta penyebaran nilai-nilai Islam yang moderat dan inklusif. Yang menjadi landasan gerak Muhammadiyah adalah Al Qur’an Surah Ali Imran Ayat 104 adalah sebagai berikut:
 "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Fokus Utama, Pendidikan, Kesehatan, Kegiatan Sosial, Pengembangan Karakter, dan Pengembangan Masyarakat. 

3. Ikwanul Muslimin 

Kajian terhadap Manhaj Ikhwanul Muslimin dapat kita lihat melalui tulisan Hasan Al-Banna pendiri Ikhwanul Muslimin, Da’watuna fii Thaurin Jadid (Gerakan Da’wah Kita di Era Modern), yang menjelaskan karakteristik Da’wah Ikhwanul Muslimin sebagai Rabbaniyah dan ‘Alamiyah. 3 Ikhwanul Muslimin percaya bahwa gerakan da’wah haruslah dibangun di atas pondasi Rabbaniyah yaitu dengan menjadikan Allah جل جلاله sebagai satu-satunya tujuan (Allahu ghayatuna-Allah tujuan kami). Sedangkan prinsip ‘Alamiyah diterapkan dengan menghilangkan batas-batas kebangsaan dan kenegaraan dalam da’wah dan hanya menjadikan Islam sebagai identitas. Mengingat background berdirinya Ikhwanul Muslimin yaitu pada waktu sebagian besar dunia Islam masih dalam kungkungan penjajah Barat, serta latar belakang Hasan Al-Banna sendiri yang merupakan penganut Tasawwuf, dapat kita lihat bahwa gerakan Ikhwan merupakan gabungan antara ideologi anti penjajah, juga gerakan perlawanan terhadap Israel, yang diisi dengan pendekatan Tasawwuf dalam metode pembinaannya. Salah satu warisan monumental dari Hasan Al-Banna adalah wirid al-Ma’tsurat yang berisikan rangkaian wirid harian. Pendekatan Tasawuf juga antara lain dapat terlihat dari metode pembinaan berupa Usrah yaitu kelompok-kelompok kecil yang mandiri di bawah pembinaan para kader Ikhwan. Metode ini terbukti efektif dalam pengembangan gerakan Ikhwan sejak awal sampai pada hari ini, walaupun sudah mengalami banyak modifikasi baik nama maupun materi kajiannya, disesuaikan dengan perkembangan zaman yang ada.

4. Salafi 

Selanjutnya gerakan Salafi, yaitu suatu gerakan yang dilandasi oleh suatu prinsip bahwa ajaran Islam yaitu Al Qur’an dan As-Sunnah hanya dapat dipahami, dijelaskan, dan dicontohkan oleh generasi awal Islam yaitu para Shahaabah, Tabi’in dan Tabi’ut tabi’in. Generasi setelah itu hanya dapat merujuk kepada apa yang mereka pahami tentang al Qur’an dan as-Sunnah, melalui pandangan-pandangan mereka ataupun praktek-praktek yang mereka lakukan, yang direkam melalui kitab-kitab yang ditulis baik pada masa mereka ataupun masa setelahnya. Manhaj Salafi didefinisikan sebagai jalan terang dalam memahami, mengamalkan dan menyebarkan Islam berdasarkan apa yang telah dilakukan oleh ketiga generasi tersebut di atas, yaitu Shahabat (mereka yang bertemu dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم, beriman kepada beliau dan mati dalam keadaan beriman), Taabi’iin (mereka yang bertemu dengan satu atau lebih shahabat, beriman dan mati dalam keadaan beriman), dan Taabi’ut taabi’iin (mereka yang bertemu dengan Taabi’iin, beriman dan mati dalam keadaan beriman)

5. Hizbut Tahrir Di pihak lain ada gerakan Hizbut Tahrir atau disingkat HT, yaitu suatu gerakan yang mengusung tema tunggal, yaitu menegakkan kembali Khilafah, 5 dan menyatakan bahwa seluruh dunia termasuk dunia Islam sekarang ini adalah Darul kufr. yang didefiniskan sebagai wilayah yang diterapkan hukum selain syariat Islam dan atau keamanannya tidak berada di tangan kekuasaan kaum muslimin, sekalipun mayoritas penduduknya adalah orang-orang Islam.  

Korelasi Dengan Sistematika Wahyu

Bahwa setiap gerakan berusaha kembali kepada spirit Al Qur’an dan as Sunnah. Ada yang mengambil peran perbaikan bidang aqidah (al Alaq), tapi sayangnya abai dengan kepemimpinan politik (al Fatihah). Ada yang melakukan perbaikan aspek kepemimpinan dan khilafah tapi kurang perhatian dengan ibadah ruhiyah (al Muzzammil). Hidayatullah telah berikhtiar dengan meletakkan falsafah gerakannya secara sitematis dan sistemik dan tentu saja Rabbaniyah. Bahwa gerakan Hidayatullah diletakkan dengan melakukan perbaikan aqidah (al Alaq). Komitmen dengan akhlak Al Qur’an (al Qalam), peningkatan ibadah (al Muzzammil), gerakan dakwah ilallah (al Muddastsir), dan dalam kepemimpinan jamaah berIslam kaffah (al Fatihah). Dengan landasan ini memungkinkan Hidayatullah menjalankan sinergi dengan berbagai gerakan. Dan berbagai gerakan akan bisa saling melengkapi jika ada kesadaran bersinergi dengan gerakan lainnya demi izzul Islam wal Muslimin. 

Penutup 

Realitas umat Islam saat ini sedang dalam kondisi terpuruk. Peran semua pihak untuk melakukan upaya perbaikan perlu diapresiasi. Perbedaan manhaj dan falsafah hendaknya tidak menjadi kendala untuk tafahum dan taawun, karena kita percaya memiliki cita- cita besar yang sama. Sehingga perbedaan bukan untuk dipertentangkan tetapi untuk kian melengkapi dan menguatkan.



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.